Wednesday, July 9, 2014

Just for You!

Haaai...
Saya muncul lagi nih :-)
Kali ini saya akan menulis tentang seseorang. Spesial tentang saya dan dia *eheemm*

Diawali dari dua malam yang lalu, tepatnya hari Minggu, 10 Juli 2014, saya menemukan sebuah tulisan tentang saya yang dia tulis di blog-nya. Tentang ulang tahun saya yang telah lewat. Tentang kado yang hingga tulisan ini saya buat tidak kunjung dia berikan *padahal dia emang gak punya kado untuk saya*. Singkatnya, tentang saya dan dia.

Membaca tulisannya membuat saya senyum-senyum (manis) *narsis dikit boleh lah :p*, membawa saya ke masa lalu. Masa-masa di mana banyak hal konyol yang kami lakukan bersama *kayanya sampai umur segini juga masih konyol. Ups.*

Satu hal yang buat saya benar-benar terkejut atas tulisannya yang ditulis tepat di TANGGAL ulang tahun saya *gara-gara settingan di laptopnya, saya menjadi lebih tua sehari sebelum waktunya :-(* adalah saya tidak pernah menyangka dia akan menulis tentang saya, tentang kami. Pertemanan kami, persahabatan kami, selama ini tak pernah kami tunjukkan dengan cara-cara yang memperlihatkan secara jelas bahwa kami peduli satu sama lain *cuek tapi perhatian, cuek tapi butuh :p*

Seperti yang dia tuliskan, kami berteman memang sejak lama. Sejak masih imut-imut hingga sekarang juga masi imut-imut *dilarang iri!* Soal anak kembar, polisi pun mengakui. Ini terbukti waktu saya belum punya SIM C, ketika ada razia, saya santai saja tunjukkan SIM C miliknya dan tidak ada masalah *Ini dulu, pak polisi. Dulu. Serius! Sekarang saya sudah punya SIM C sendiri. Sumpah!*

Saya cerewet? Kalian nilai sendiri saja ya :-) Tapi teleponan berjam-jam padahal rumah tetanggaan - jarak satu rumah - mungkin bisa jadi bukti kuat atas "tuduhan" itu. Yups, salah satu ketidakwarasan kami adalah teleponan dan smsan lebih sering dan lebih banyak daripada sama pacar sendiri *emang punya, eh?* padahal sudah sering ketemu dan jalan bareng juga. Perjalanan kami pun kerap kami buat panjang dan lama, meskipun itu malam hari. *gimana para emak gak khawatir coba?* Hmmm... Ketidakwarasan yang menghapus kegalauan.

Cuek? It's my middle name. Sifat yang satu ini ditambah moody yang bisa dikategorikan stadium 3 *entah menurut Anda* - bahkan ada seorang teman lelaki mengatakan saya ini kaya PLN (baca: listrik). Tegangannya bisa naik dan turun tiba-tiba - emang buat orang jadi harus ekstra sabar menghadapi saya. Dia - yang dari tadi saya sebut dalam tulisan ini - yang bernama Fany benar-benar luar biasa bisa bertahan "hidup bersama" saya. Itulah kenapa di dalam halaman Acknowledgment skripsi saya menggambarkan tentang dia dalam kalimat, "I believe that you're best friend for life. Something wonderful called having you as my best friend ^ - ^ "

Anyway, waktu mencurigai mas-mas yang ternyata nyari kos-kosan sebagai maling itu, saya dan dia masih SD lho. Dengan lagak sok detektif dan super pede kami jadikan mobil K***** pick up warna merah punya Oom M***** sebagai markas kami tanpa izin *untung gak dituduh kudeta karena menduduki mobil orang lain tanpa izin* Giliran aja ada maling beneran, eh kami sangka mereka yang punya barang (baca: motor). Kejadian macam ini terjadi dua kali pula. Apakah ini tanda-tanda alam bahwa kami mudah tertipu? Semoga saja tidak. Dan semoga saja kami tidak menjadi penipu. Amin ya robbal alamiin.

Jurus menyenangkan diri sendiri (baca: jurus memanjakan lidah) bagi kami *atau saya, eh?* adalah jurus paling ampuh menenangkan suasana hati yang lagi kacau galau *bukan balau*. Lidah senang, perut kenyang, hati tenang, uang melayang. 
Kalau dulu aja harus ngumpulin duit dulu selama seminggu demi silverqueen dan es krim walls - yang doyan coca cola itu dia - sekarang demi cokelat (always), green tea shake, kopi, steak, dan makanan serta minuman yang tak henti-hentinya bermain mata menggoda kami. Benar memang, wisata kuliner adalah kegemaran kami. Duit habisnya buat perut mlulu. Kalau buat makanan, gak mikir harga. Tapi kalau buat beli baju, mikirnya lama dan ujung-ujungya gak jadi beli malah pergi makan.

Ngopi Berdua di Malam Minggu 

Green Tea Shake Idola

Steak murmer

Es krim dipasangkan dengan mocha float


Kalau lihat foto-foto di atas, wajar saja jika sekarang kami tumbuh semakin subur :-)
Hmmm... Walaupun sekarang bulan Ramadhan, niat berwisata kuliner tidak pernah hilang dari pikiran kami.
Besok saja kami sudah berencana mau ke ***** ***  *sensor yeee, supaya gak ada yang ngikutin*

Selanjutnya, kelakuan aneh kami lainnya adalah hobi foto di kamar ganti toko. Doyaaan banget beraksi di depan kamera tanpa ada mata-mata yang tertuju karena terpesona dengan kami *halah!*

 



Narsis di kamar ganti adalah kegembiraan bagi kami.

Ngomong - ngomong tentang sholat tarawih yang wajib booming di bulan Ramadhan, saya pun merindukan tarawih bareng dia, tarawaih di Masjid Al - Mujahidin ***** ****. Kangen sama suasana di perumahan itu. Hiks. Sebenarnya ada sih rencana buat sesekali tarawih di sana, tapi sampai sekarang belum terlaksana. #bukansekadarrencana

Last but not least, thousand thanks untukmu sahabat. Terima kasih atas doanya, semoga dikabulkan. Amin ya robbal alamiin. Terima kasih atas persahabatan yang sudah terjalin selama ini. Terima kasih telah setia "meminjamkan" telinga dan pundakmu. Terima kasih atas nasihat-nasihatmu. 



Semoga persahabatan ini baik-baik saja, kawan. Jika suatu saat nanti ada masalah di antara kita, ingatlah bagaimana kebersamaan kita selama ini sehingga tak mudah bagi kita untuk mengakhiri ini semua.

You're my 'crazy silly' best friend ever. Thanks for always making me laughs. Thanks for every single moment of our craziness and togetherness. I believe that you're best friend for life. Something wonderful called having you as my best friend ^ - ^


PS: Bener lho, ntar di kuburan juga sendiri-sendiri :-)


Tulisan asli mbak Fany, bisa dilihat di sini:

Tuesday, June 17, 2014

Bukan Tentangmu Lagi

Kini kau tak peduli...
Mungkin karena telah tak ada hati...
Atau mungkin rasamu telah mati...
Atau mungkin karena memang tak ada hati...

Kelak kau pasti 'kan sadari,
Ia sangat berarti.
Tak peduli kau pergi,
Ia setia menanti.

Ketika pagimu terasa sunyi,
kau mencari yang telah pergi...
Ketika siangmu terasa sepi,
kau mencari yang telah pergi...
Ketika malammu terasa tak berarti,
kau mencari yang telah pergi.

Ketika ia datang kembali,
Hatinya bukan tentangmu lagi.



*Mataram, June 17, 2014 - 10.00 pm*

(Akan) Tiba Masanya

(Akan) tiba masanya,cepat atau lambat.
(Akan) tiba masanya,
sekarang atau nanti.
(Akan) tiba masanya,
sebelum kau sadari atau setelah dia jauh pergi.



*Mataram, June 1, 2014 - 9.50 pm*

Monday, June 16, 2014

Konyol (Lagi)

Belakangan ini entah kenapa saya agak linglung. Kelinglungan ini membuat saya terkadang bertingkah konyol (padahal linglung nggak linglung, tetap aja suka konyol :D).


Salah satu contoh kekonyolan saya terjadi siang tadi.
Dengan santainya saya masuk ke dalam mobil yang jelas-jelas jauh beda sama mobil kantor, duduk manis di samping pak supir (saya sebut pak supir karena si bapak duduk di belakang setir, bukan di kursi penumpang) yang terbangun karena saya membuka pintu mobilnya kemudian ia spontan menyalakan mesin mobil, sehingga mas tukang parkir pun sigap beranjak dari tempatnya berdiri, mendekati mobil dan menginstruksikan agar mobil yang di belakang mundur.
Saya baru sadar kalau saya salah naik mobil setelah melihat tidak ada uang parkir yang sebelum pergi saya letakkan di bawah tape mobil. Ya! Saya sadar bukan karena bapak yang duduk di sebelah kanan saya beda walaupun sebenarnya sebelum masuk ke dalam mobil, saya lihat koq si bapak yang sedang tidur. (Parah! Pertanda apakah ini??? Pertanda minus mata bertambah kali ya? Hahaha)
Kemudian dengan cueknya saya berkata ke pak supir, "Maaf, pak, saya salah naik mobil". Yang lebih konyol lagi, si pak supir ternyata baru sadar kalau orang yang saat itu sedang duduk di sampingnya bukanlah penumpangnya setelah saya berkata begitu. "Oh, saya pikir tadi teman saya, mbak.", jawab pak supir menanggapi. Lantas seolah tidak terjadi apa-apa, saya keluar dari mobil tersebut dan berjalan ke mobil kantor sebenarnya yang ternyata ada di belakang mobil tadi. Yang di dalam mobil menunggu saya sudah tidak dapat menahan tawa. Saya pun sampai nyaris tidak bisa berhenti tertawa.

Kekonyolan yang indah :-)

Saturday, June 14, 2014

Serba Instan

Belakangan ini, saya "tertarik" dengan fenomena berpikir instan. Ya! Bukan hanya makanan dan minuman saja saja yang instan. Tetapi pikiran pun bisa instan. Mungkin semua ini karena kita terbiasa disuguhkan dengan yang serba instan. Mie instan, misalnya. Bahkan, proses pendidikan pun ada yang instan. Menurut saya, loncat kelas dan program kelas akselerasi adalah bentuk pendidikan instan.
Pola pikir instan inilah rupanya yang mendorong terbentuknya karakter-karakter yang tidak mau berjuang, lebih mementingkan hasil akhir daripada proses, sehingga cenderung menghalalkan segala cara (termasuk dengan cara-cara yang instan) untuk menggapai tujuan akhir. Tak dipungkiri bahwa hasil akhir adalah penting, tetapi proses untuk mencapai sesuatu yang penting itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena, inti dari semua yang kita capai pada akhirnya adalah proses yang kita jalani sejak awal hingga tujuan tercapai. Dalam perjalanan proses itulah kita belajar, termasuk belajar mengenali diri kita sendiri. Dalam perjalanan proses itulah kita menempa diri kita untuk menjadi lebih tangguh dan lebih siap untuk menghadapi problema hidup. Dalam perjalanan proses itulah kita mendapat banyak pengalaman dan pelajaran, jika kita mau berpikir tentunya.

Untuk Kesekian Kalinya

Hai blog ku, hai semuaaa...
Apa kabar???

Lagi-lagi saya menghilang lama dari halaman ini.
Untuk kesekian kalinya saya tidak mematuhi niat awal saya membuat blog ini.
Dan untuk kesekian kalinya pula saya harus susah payah masuk ke halaman blog saya sendiri karena lupa dengan password-nya. Tapi hal ini tidak membuat saya jera untuk membuat password yang aneh bin ajaib :)

Malam ini, untuk kesekian kalinya saya bertekad untuk tak lagi mengabaikan blog yang seharusnya bisa jadi tempat saya untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja.
Malam ini, untuk kesekian kalinya saya memulai lagi posting baru dalam blog ini.
Untuk kesekian kalinya, izinkan saya kembali ke dunia ini.

Selamat datang kembali, untuk diriku sendiri :)

Tuesday, July 31, 2012

Inspirasi dan Kamar Mandi

Inspirasi bisa kita dapatkan di mana saja, kapan saja, dari apa saja, dan dari siapa saja. Inspirasi tak jarang datang tiba-tiba tanpa permisi. Begitu pula ketika inspirasi menghampiri saya, begitu mendadak dan tak peduli apa yang sedang saya lakukan dan rasakan saat itu. Saya kerap mendapat inspirasi ketika sedang menonton, membaca, mengendarai motor, menyetrika, bersih-bersih rumah, bahkan ketika saya sedang beraktivitas di dalam kamar mandi. Yang terakhir saya sebut adalah situasi yang seringkali saya hadapi. Saya - yang mandi sampai lima belas menit hanya ketika keramas - bisa berada di dalam kamar mandi hingga dua puluh bahkan nyaris tiga puluh menit. Well, di sini saya akan muat salah dua dari beberapa hasil "semedi" saya di dalam kamar mandi.

Saya suguhkan yang pertama dulu ya :)


Dalam cemburu aku tersesat
Namun ku tak berani mendekat
Hanya mampu menatapmu lekat
Sikapmu itu... ooh sungguh keramat
Membuat hatiku berkarat,
karena cinta tanpa syarat!

*Mataram, 21 Juli 2012 - 7.20 am*


Kalimat pada baris awal untaian kata-kata di atas sebenarnya saya dapat di detik-detik terakhir menyetrika baju. Tersisa satu potong kaos dari berbagai jenis pakaian yang bertumpuk setelah hampir satu minggu menanti untuk dilicinkan dan diharumkan. Entah mengapa kalimat itu terlintas begitu saja, padahal saya tidak sedang cemburu pada siapa pun dan pada apa pun. Berhubung hari itu saya harus masuk kerja dan belum mandi, jadilah saya melanjutkan merangkai kata di dalam kamar mandi. Hasilnya ya seperti yang kalian lihat di atas. Apa yang saya tulis sama sekali tidak didukung dengan tempat maupun suasana hati. Tapi walaupun sebagian besar kata tersebut saya peroleh dan rangkai di kamar mandi, saya senang membacanya. Semua kata itu begitu aneh dan menggoda - bagi saya ;)

Sekarang mari kita lihat hasil "semedi" yang kedua, yang tidak sekadar 'aneh' tapi 'sangat aneh'. Kalian yang membaca saya persilahkan untuk tertawa, geleng-geleng kepala, berdecak kagum, muntah, ataupun berguling-guling di lantai :D


Ku lihat danau itu begitu biru
dan kau berdiri memandangnya, beku...
Aku pun hanya terpaku.
Kau benar-benar membuat lidahku kelu,
kebisuanmu tak membuatku lupa akan ucapanmu sesaat lalu.
          Aah kau ini benar-benar...
         Tak peduli aku tersipu,
         kau tetap katakan hal itu
Burung-burung di sekitar kita mendendangkan lagu
seolah bahagia mendengar percakapan kau dan aku
         Lantas apalagi yang kau tunggu, pangeranku?
        Akankah kita terus di sini, bergantian menatap langit dan danau yang sama biru? 

*Mataram, 22 Juli 2012 - 9.45 am*


See? Sangat aneh, bukan? Saya benar-benar tidak mengerti kenapa saya bisa menyusun kata-kata seperti yang di atas itu. Tiba-tiba ada 'danau biru', 'percakapan kau dan aku', dan yang lebih menggelikan lagi ada kata 'pangeranku'. Entah apa yang merasuki saya, tapi yang jelas saat itu saya sedang sadar sesadar-sadarnya. Saya tidak sedang mabuk cinta, apalagi mabuk alkohol, bah. Saya juga tidak sedang mengkhayal tentang danau berwarna biru ataupun mengkhayal mendengar burung-burung berdendang.

Hmm... ya ya ya, inilah yang dinamakan dengan inspirasi. Dia bisa datang dalam sekejap, pun hilang dalam satu kedipan mata jika kita tak langsung menuangkannya di atas selembar kertas atau menyampaikannya ke orang-orang terdekat kita.

Sebuah inspirasi, bagi saya pribadi, bisa datang tanpa peduli tempat dan situasi. Saya bisa menciptakan suasana hati seolah sedang jatuh cinta, patah hati ataupun marah tanpa perlu menunggu semua itu terjadi. Begitu pula halnya dengan tempat. Kamar mandi telah menjadi tempat favorit saya berikutnya dalam mencari dan mendapat inspirasi setelah kamar tidur.

Never Stop to Smile

Never Stop to Smile

The Nature of Human Being

The Nature of Human Being

Think Purple

Think Purple