Showing posts with label My Love My Family. Show all posts
Showing posts with label My Love My Family. Show all posts

Friday, May 18, 2012

Ketika Aku Jatuh Cinta Kepada "nya"

Saat itu aku masih lugu, tak banyak tahu tentang hal-hal di luar duniaku. Saat itu juga ada seorang lelaki yang begitu dekat denganku, rela melakukan apapun demi membahagiakanku. Dia telah menjadi bagian yang begitu berarti dalam hidupku, karena dia sangat memahamiku. Dialah lelaki yang hampir tidak pernah menolak permintaanku. Dia temani hari-hariku tanpa satu haripun berlalu. Dia perlakukanku layaknya seorang tuan putri yang tak boleh seorangpun mengganggu. Kesederhanaan, kedewasaan, dan kehangatan sikapnya benar-benar ku rasakan tanpa ragu. 
Dia begitu istimewa di mataku. Banyak hal yang telah dia ajarkan padaku. Dia, sosok pria yang selalu siap melindungiku tapi tak pernah mau melihatku lemah jika dirinya tak sedang bersamaku. Dia menyukai jika aku menjadi wanita yang tahu malu tapi keras menegurku jika bertanya hal-hal yang ku tak tahu pun aku malu.
Dia juga telah mengenalkan banyak hal padaku. Dia yang membuat acara berita di televisi menjadi salah satu tontonan favoritku. Dialah lelaki pertama yang mengajakku ke pantai tanpa malu-malu. Sering ia menonton film-film box office tanpa pernah alpa untuk mengajakku. Aku selalu melihatnya bahagia ketika nonton pertandingan sepak bola bersamaku.Ya, dia adalah orang yang mengenalkan sepak bola padaku hingga pada akhirnya dia membuatku jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Dengan apa yang telah dia lakukan, aku benar-benar jatuh cinta. Dia membuatku benar-benar jatuh cinta pada sepak bola. Bagaimana tidak cinta, aku mengenal sepak bola 18 tahun yang lalu, ketika aku baru bisa membaca, dan sampai saat ini aku masih gemar menonton pertandingan sepak bola.

Dia, ayahku, telah membuatku benar-benar jatuh cinta pada sepak bola.

Friday, May 4, 2012

Kenangan Bersamamu

Tahun ini, tanggal 27 Maret jatuh tepat di hari Selasa. 5 tahun yang lalu, di hari dan tanggal yang sama, bertepatan dengan ulang tahun ke-8 adik bungsuku, Ayahku meninggal dunia. Beliau berpulang ke hadapan Illahi tanpa ada Ibu dan anak-anak yang menemaninya. Hingga saat ini, aku masih tak percaya Ayah telah tak bersama kami lagi.

Ayah adalah sosok yang sangat berarti bagiku. Aku sangat dekat dengannya. Beliau selalu mengingatkanku agar menjadi anak perempuan yang mandiri, yang tak perlu meminta bantuan orang lain selama masih bisa menyelesaikan atau mengerjakan segala seuatu seorang diri. Ayah mengajarkanku untuk menjadi anak yang berani dan tegar. Ayah mendidik aku (dan adik-adikku) untuk hidup sederhana. Ayah terlihat cuek, tapi beliau sangat memperhatikan tata krama dan sopan santun. Ayah selalu menegur jika anak-anaknya menjawab "hmmm..." ketika dipanggil oleh beliau ataupun Ibu. Tak jarang Ayah memarahiku (atau adik-adik) karena melawan Ibu. Ayah juga tidak pernah suka melihat temanku (ataupun teman adik-adikku) harus menunggu ketika menjemput kami. Beliau selalu menekankan bahwa lebih baik kita yang menunggu daripada ditunggu, apalagi kalau kita yang dijemput. Ayah juga seringkali mengingatkan kalau mau pergi ke sekolah, berangkat dari rumah paling telat setengah jam sebelum jam sekolah dimulai. Ayah mengenalkanku pada kebersihan dan kerapihan. Beliau memang orang yang pembersih karena sejak kecil dibesarkan di keluarga yang pembersih (bahkan beberapa buklek ku sangat pembersih). Ayah juga orang yang apik dalam memelihara barang-barang miliknya dan ini menurun padaku, walaupun harus ku akui kalau aku tidak seapik beliau. Dalam keluarga kecil kami, sehabis sholat Ashar, kami bersih-bersih rumah dan tidak ada yang boleh menyetel TV. Tak jauh beda ketika Maghrib tiba, TV masih tidak boleh menyala karena sehabis sholat, kami dibiasakan untuk mengaji.

Aku tidak akan pernah lupa bagaimana Ayah mengajarkanku untuk tidak malu dan berani bertanya, terutama dalam hal berbelanja. "Bukan perhitungan, tapi kita memang harus teliti kalau beli apa-apa", kata Ayah. Beliau jugalah yang mengenalkanku pada sepak bola, F1, moto gp, dan tinju sehingga aku begitu gemar menonton olahraga-olahraga tersebut yang umumnya menjadi totonan para lelaki. Masih jelas dalam ingatanku bahwa kami sering begadang bersama untuk nonton bola atau film-film laga barat kesukaan kami.

Ayah, layaknya orang tua pada umumnya, sangat bangga padaku. Aku bisa merasakan itu dari cara beliau bercerita pada keluarga besar tentang anak perempuan satu-satunya ini. Rasanya hampir tidak ada satupun cerita tentangku baik di sekolah maupun di luar sekolah yang tidak disampaikan Ayah ke keluarga besar kami.

Kenangan tentang Ayah tak kan pernah hilang. Hingga 5 tahun kepergiannya, aku masih ingat kebiasaan dan kesukaan Ayah. Mulai dari Brazil, tim favorit Ayah dalam Piala Dunia yang tentu saja bertentangan denganku yang setia menjagokan Belanda dan tim Tango. Kemudiaan kebiasaan Ayah duduk di teras belakang, bermain gitar menyanyikan lagu-lagu dari penyayi idolanya, khususnya Iwan Fals, Ebiet G. Ade, dan Koes Plus. Dan tentu saja Ayah orang yang paling berpengaruh dalam kesukaanku akan musik. Lagu-lagu dan penyayi atapun grup band favorit Ayah menjadi favoritku juga.




Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm…
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia
Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia


Nobody's perfect. Well, itu juga yang berlaku pada Ayahku. Tetapi, biarlah ku simpan sendiri apa yang menjadi kekurangan Ayahku.
Ayah tetaplah Ayahku, tak kan tergantikan oleh siapapun.

Ayah, I'm proud to be your daughter. I luv u so, I miss u so!!!

Wednesday, February 29, 2012

Pangeranku Beraksi

Hari ini hari Minggu. Sebenarnya aku ingin menyetrika pakaianku yang hampir satu minggu merengek-rengek ingin dihangatkan dan dirapikan. Tapi hari ini aku sudah berjanji untuk mengantar dan menemani adikku pergi ke Taman Budaya untuk mengikuti lomba baca puisi dan cerpen tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA.

Dan inilah dia aksi adikku saat tampil!


Adikku adalah pangeranku. Faris Abiyyu. Aku biasa memanggilnya Abiyyu. Dia adikku yang paling kecil dan sangat ku sayang. Kami berdua kompak, namun tak jarang kami juga bertengkar. Aku dan Abiyyu itu mirip. Tidak hanya dari segi wajah, tapi juga dalam hal-hal lain. Salah satunya seperti yang ada dalam video di atas.

Walaupun dia tidak keluar sebagai pemenang, bagiku dia tetap pangeranku. Aku bangga melihatnya tampil penuh keberanian. Ini pertama kalinya Abiyyu tampil di luar sekolah, tapi tak ada keraguan sedikitpun dalam hatinya. Yang ada di pikrannya hanya ingin tampil maksimal dan sebagus mungkin.

Setelah pengumuman dan namanya tidak disebutkan, ku katakan padanya bahwa menang dan kalah itu bagian dari rezeki yang sudah diatur oleh Allah SWT. Yang terpenting adalah bagaimana kita mau berusaha dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Apalagi ini penampilan pertama, jadi wajar kalau belum mendapat kesempatan keluar sebagai pemenang.

Tetap semangat adikku! Teruslah berprestasi dan tetap rendah hati ;)

*Mataram, 26 Februari 2012*



Bingkisan dari Ibu

Ketika ku buka lemari pakaianku pagi tadi, ku temukan bingkisan ini. Kertas kado yang digunakan memang sedikit lusuh, tapi aku menghargai dan menyukai hadiah ini. Bagiku yang terpenting adalah rasa dan doa yang ingin beliau sampaikan :)


Aku yakin yang ada di dalam bingkisan ini adalah sebuah buku, karena ibu tahu aku suka membaca. Aku senang ibu menghadiahi sesuatu yang ku suka dan pasti bermanfaat bagiku. Semoga hadiah dari beliau ini tidak hanya bermanfaat bagiku, tapi juga bagi keluarga dan orang-orang di sekitarku.Amin ya robbal alamin!
Terima kasih, Ibu!

Never Stop to Smile

Never Stop to Smile

The Nature of Human Being

The Nature of Human Being

Think Purple

Think Purple